Jumat, 02 Juni 2017

Pemaknaan Hijrah di Bulan Ramadhan

Hasil gambar untuk hijrah

“Merantaulah Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” ~ Imam Syafi’i
Hidup merupakan akumulasi hari ke hari, tempat dan tempat, serta orang demi orang yang dilalui manusia. Dalam hidup manusia hampir tidak ada yang memiliki pengalaman yang sama. Hari kemarin akan terganti dengan hari ini, hari ini akan terganti dengan hari esok. Tempat demi tempat akan terus tersinggahi. Orang orang silih berganti mengisi hari, kemarin ia disayang mungkin besok bisa jadi dibenci begitu pula sebaliknya. Begitulah hidup selalu berubah satu – satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Maka benar adanya hikmah dari Imam Syafi’i bahwa selalu ada ganti yang lebih manis kala hidup telah dilalui dengan perjuangan.
“When you change the way you look at things, the things you look at change” ~ Max Planck
Saya tertarik dengan kutipan di atas sekalipun mungkin keabsahannya bukan benar benar kutipan dari Max Planck. Namun saya ingin membahas sedikit makna perubahan lewat penemuan beliau dengan pengantar kutipan tersebut. Sebelum Max Planck berhasil menemukan fondasi dasar teori mekanika kuantum, mekanika klasik ala Newton sangatlah didewakan. Akan tetapi, ketika berurusan dengan tataran sistem atom dan sub atomik hukum yang didewakan itu tidak bekerja. Dari sini perlu dipikirkan paradigma yang berbeda dalam melihat fenomena fisis dalam tataran sistem tersebut. Sehingga dengan kerja kerasnya Max Planck berhasil memberikan sumbangsih besar terhadap tools matematik untuk menjelaskan fenomena fisis sistem atom dan sub atomik yang lebih kita kenal sekarang sebagai mekanika kuantum.
Begitulah perubahan bisa kita awali dari perubahan sudut pandang dalam melihat sesuatu. Sterotip lama yang sekiranya mengendap dalam alam bawah sadar bisa tergantikan karena sudut pandang yang berbeda. Tidak ada yang berbeda dalam kasus Planck di atas, objek yang diamati tetaplah sama. Sistem atomik sebagai sudut pandang yang berbeda mampu merubah penjelasan fisis pada objek yang teramati. Dengan semangat yang sama, sekiranya saya rasa Einstein pun pada akhirnya mampu menjelaskan teori Relativitas.
Lalu bagaimana perubahan ini bisa membawa kita menjadi lebih baik? Perubahan dimana Driving force utama perubahan tersebut adalah tuntunan Ilahiah, selanjutnya akan saya sebut sebagai hijrah. Teringat peristiwa besar dalam rangkaian perjalanan dakwah Rasulullah yakni peristiwa hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Peristiwa ini menurut saya lebih dari sekedar keluar dari deraan siksaan menuju manisnya persaudaraan seiman, dari boikot sebagai kaum marjinal menuju kesetaraan yang diutamakan, dari perjuangan pembangunan akidah menuju pembangunan masyarakat madani.
وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisaa’ (4): 100]
Hijrah merupakan perintah sekaligus ujian ketaatan, perintah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan beberapa hadits. Perintah yang menjadi solusi di tengah kegetiran perjuangan yang semakin mengharukan. Sebagaimana Allah berjanji tidak akan memberikan beban yang tidak bisa ditanggung oleh hamba-Nya, maka hijrah pun adalah upaya Allah menyelamatkan hamba-Nya yang setia. Di satu sisi sekalipun sudah dibukakan keberkahan dari hijrah, masih ada ummat Rasul yang memilih bertahan. Entah karena alasan keluarga atau harta benda yang belum bisa ditinggalkan sebagian dari mereka tidak mengindahkan solusi yang Allah anjurkan. Maka darinya hijrah merupakan pilihan, bisa engkau ambil bisa engkau hiraukan.
Oleh karena hijrah itu pilihan tentu ada sesuatu yang siap direlakan atau seringkali kita sebut sebagai resiko. Hijrah bisa membuat seseorang jauh dari keluarga, jauh dari harta, jauh dari jabatan yang selama ini ia bangun. Sebagaimana dalam sejarahnya hijrah sebagai sesuatu yang besar, dalam kehidupan seorang muslim hijrah bisa menjadi keputusan besar dalam hidupnya. Sebut saja contoh sederhana bagi perempuan yang memilih untuk berhijab. Di awal waktu ia mungkin akan dapat omongan tidak enak (anyway kurang bisa membahasakan ‘sepetan’) dari kerabat terdekat, bisa jadi kurang dukungan dari keluarga, dan teralienasi dari lingkaran pergaulan yang sudah lama dibangun. Sekali lagi itu pilihan, namun bagi hamba Allah yang yakin akan janji-Nya itu semua tidaklah berarti. Karena sejatinya Allah telah membeli jiwa jiwa hamba-Nya yang mendekat pada-Nya dengan Surga.
Hijrah tak sesederhana perubahan seperti transformasi. Karena merupakan pilihan dan mengutamakan tuntunan Ilahiah. Apabila transformasi bisa terjadi hanya dengan perubahan bentuk. Maka hijrah selain perubahan bentuk jua diikuti dengan perubahan makna. Keduanya bisa berjalan paralel dalam perubahannya atau salah satu saling mendahului. Perubahan makna ini sama seperti perubahan paradigma dalam melihat sesuatu. Kembali dengan contoh hijab, semula sebelum hijrah bisa jadi ia melihat hijab sebagai sesuatu yang membebani karena hawa gerah dan tidak nyaman. Setelah hijrah ia kemudian bisa melihat bahwa hijab sebagai penolong dari panasnya hisab di akhirat.
Begitulah hijrah sebagaimana transformasi jua punya fungsi transfer. Fungsi yang membedakan input dengan output. Apabila tidak ada perubahan tentu bukan transformasi lebih lebih disebut hijrah. Semakin tinggi orde fungsi transfer semakin mendekati realita atau dengan kata lain output yang diprediksikan bisa semakin terealisasi. Untuk mendapatkan fungsi transfer dengan orde tinggi tentu tingkat kompleksitasnya usahanya pun semakin tinggi. Tapi tidak dalam kasus khusus di bulan penuh pengampunan seperti Ramadhan sekarang. Pintu pintu surga Allah bukakan, rekening rekening pahala dengan liquiditas tinggi terjadi di bulan suci ini.
Lalu bisakah kita mendapatkan fungsi transfer di kondisi paling menguntungkan ini? Penulis kembalikan jawabannya kepada masing masing dari kita. Jawabannya bisa bergantung dengan pemaknaan terhadap bulan Ramadhan ini serta niat tulus kehambaan kepada-Nya. Sebagaimana pemenang dalam bulan ini adalah orang yang taqwa, dan orang taqwa adalah sebaik baiknya output dari setinggi tingginya orde fungsi transfer seseorang yang berhijrah.

Selamat memaknai hijrah di bulan Ramadhan, semoga menjadi pemenang di bulan Syawal J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar