Jumat, 02 Juni 2017

Pemaknaan Hijrah di Bulan Ramadhan

Hasil gambar untuk hijrah

“Merantaulah Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” ~ Imam Syafi’i
Hidup merupakan akumulasi hari ke hari, tempat dan tempat, serta orang demi orang yang dilalui manusia. Dalam hidup manusia hampir tidak ada yang memiliki pengalaman yang sama. Hari kemarin akan terganti dengan hari ini, hari ini akan terganti dengan hari esok. Tempat demi tempat akan terus tersinggahi. Orang orang silih berganti mengisi hari, kemarin ia disayang mungkin besok bisa jadi dibenci begitu pula sebaliknya. Begitulah hidup selalu berubah satu – satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Maka benar adanya hikmah dari Imam Syafi’i bahwa selalu ada ganti yang lebih manis kala hidup telah dilalui dengan perjuangan.
“When you change the way you look at things, the things you look at change” ~ Max Planck
Saya tertarik dengan kutipan di atas sekalipun mungkin keabsahannya bukan benar benar kutipan dari Max Planck. Namun saya ingin membahas sedikit makna perubahan lewat penemuan beliau dengan pengantar kutipan tersebut. Sebelum Max Planck berhasil menemukan fondasi dasar teori mekanika kuantum, mekanika klasik ala Newton sangatlah didewakan. Akan tetapi, ketika berurusan dengan tataran sistem atom dan sub atomik hukum yang didewakan itu tidak bekerja. Dari sini perlu dipikirkan paradigma yang berbeda dalam melihat fenomena fisis dalam tataran sistem tersebut. Sehingga dengan kerja kerasnya Max Planck berhasil memberikan sumbangsih besar terhadap tools matematik untuk menjelaskan fenomena fisis sistem atom dan sub atomik yang lebih kita kenal sekarang sebagai mekanika kuantum.
Begitulah perubahan bisa kita awali dari perubahan sudut pandang dalam melihat sesuatu. Sterotip lama yang sekiranya mengendap dalam alam bawah sadar bisa tergantikan karena sudut pandang yang berbeda. Tidak ada yang berbeda dalam kasus Planck di atas, objek yang diamati tetaplah sama. Sistem atomik sebagai sudut pandang yang berbeda mampu merubah penjelasan fisis pada objek yang teramati. Dengan semangat yang sama, sekiranya saya rasa Einstein pun pada akhirnya mampu menjelaskan teori Relativitas.
Lalu bagaimana perubahan ini bisa membawa kita menjadi lebih baik? Perubahan dimana Driving force utama perubahan tersebut adalah tuntunan Ilahiah, selanjutnya akan saya sebut sebagai hijrah. Teringat peristiwa besar dalam rangkaian perjalanan dakwah Rasulullah yakni peristiwa hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Peristiwa ini menurut saya lebih dari sekedar keluar dari deraan siksaan menuju manisnya persaudaraan seiman, dari boikot sebagai kaum marjinal menuju kesetaraan yang diutamakan, dari perjuangan pembangunan akidah menuju pembangunan masyarakat madani.
وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisaa’ (4): 100]
Hijrah merupakan perintah sekaligus ujian ketaatan, perintah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan beberapa hadits. Perintah yang menjadi solusi di tengah kegetiran perjuangan yang semakin mengharukan. Sebagaimana Allah berjanji tidak akan memberikan beban yang tidak bisa ditanggung oleh hamba-Nya, maka hijrah pun adalah upaya Allah menyelamatkan hamba-Nya yang setia. Di satu sisi sekalipun sudah dibukakan keberkahan dari hijrah, masih ada ummat Rasul yang memilih bertahan. Entah karena alasan keluarga atau harta benda yang belum bisa ditinggalkan sebagian dari mereka tidak mengindahkan solusi yang Allah anjurkan. Maka darinya hijrah merupakan pilihan, bisa engkau ambil bisa engkau hiraukan.
Oleh karena hijrah itu pilihan tentu ada sesuatu yang siap direlakan atau seringkali kita sebut sebagai resiko. Hijrah bisa membuat seseorang jauh dari keluarga, jauh dari harta, jauh dari jabatan yang selama ini ia bangun. Sebagaimana dalam sejarahnya hijrah sebagai sesuatu yang besar, dalam kehidupan seorang muslim hijrah bisa menjadi keputusan besar dalam hidupnya. Sebut saja contoh sederhana bagi perempuan yang memilih untuk berhijab. Di awal waktu ia mungkin akan dapat omongan tidak enak (anyway kurang bisa membahasakan ‘sepetan’) dari kerabat terdekat, bisa jadi kurang dukungan dari keluarga, dan teralienasi dari lingkaran pergaulan yang sudah lama dibangun. Sekali lagi itu pilihan, namun bagi hamba Allah yang yakin akan janji-Nya itu semua tidaklah berarti. Karena sejatinya Allah telah membeli jiwa jiwa hamba-Nya yang mendekat pada-Nya dengan Surga.
Hijrah tak sesederhana perubahan seperti transformasi. Karena merupakan pilihan dan mengutamakan tuntunan Ilahiah. Apabila transformasi bisa terjadi hanya dengan perubahan bentuk. Maka hijrah selain perubahan bentuk jua diikuti dengan perubahan makna. Keduanya bisa berjalan paralel dalam perubahannya atau salah satu saling mendahului. Perubahan makna ini sama seperti perubahan paradigma dalam melihat sesuatu. Kembali dengan contoh hijab, semula sebelum hijrah bisa jadi ia melihat hijab sebagai sesuatu yang membebani karena hawa gerah dan tidak nyaman. Setelah hijrah ia kemudian bisa melihat bahwa hijab sebagai penolong dari panasnya hisab di akhirat.
Begitulah hijrah sebagaimana transformasi jua punya fungsi transfer. Fungsi yang membedakan input dengan output. Apabila tidak ada perubahan tentu bukan transformasi lebih lebih disebut hijrah. Semakin tinggi orde fungsi transfer semakin mendekati realita atau dengan kata lain output yang diprediksikan bisa semakin terealisasi. Untuk mendapatkan fungsi transfer dengan orde tinggi tentu tingkat kompleksitasnya usahanya pun semakin tinggi. Tapi tidak dalam kasus khusus di bulan penuh pengampunan seperti Ramadhan sekarang. Pintu pintu surga Allah bukakan, rekening rekening pahala dengan liquiditas tinggi terjadi di bulan suci ini.
Lalu bisakah kita mendapatkan fungsi transfer di kondisi paling menguntungkan ini? Penulis kembalikan jawabannya kepada masing masing dari kita. Jawabannya bisa bergantung dengan pemaknaan terhadap bulan Ramadhan ini serta niat tulus kehambaan kepada-Nya. Sebagaimana pemenang dalam bulan ini adalah orang yang taqwa, dan orang taqwa adalah sebaik baiknya output dari setinggi tingginya orde fungsi transfer seseorang yang berhijrah.

Selamat memaknai hijrah di bulan Ramadhan, semoga menjadi pemenang di bulan Syawal J

Minggu, 02 April 2017

Peran Pemuda Islam

·       Pepatah mengatakan :Pemuda adalah masa depan ummat, masa depan dunia dan kemanusiaan.
ü  Kenapa harus dari tangan pemuda masa depan umat ditentukan? Karena hanya merekalah yang akan menghadapi langsung realitas keseharian masa depan. Mereka yang akan meramaikan pentas ”sandiwara dunia” ini dengan peran penting yang dimainkannya.
ü  Sebab pemuda adalah produk generasi yang serba ingin tahu, ingin menunjukkan kebolehan dan kemampuannya dalam meraihcita-cita, meraih ‘izzah (kemuliaan) dunia dan akhirat, memiliki semangat dan kemampuan untuk belajar sekaligus mudah menyerap nilai-nilai kebaikan atau bahkan mudah terpengaruh dengan kejahatan (kemaksiatan).

·       DefinisiPemuda :
ü  Fase pemuda adalah fase dimana jiwanya bersatu lewat unsur-unsur kemanusian, menonjol dengan semangat hidupnya yang berkobar, semangat untuk mempelajari segalas esuatu (serba ingin tahu) serta dalam mengemban tugas dan kewajibannya (tanggung jawabnya).

·       Pemuda dalam Pandangan Islam :
ü  Menurut Islam, pemuda dapat member dan mendatangkan kebaikan sepanjang diarahkan ke arah yang baik.
ü  Pemuda adalah penunjang kemakmuran alam raya, sebagai khalifah di atas bumi ini.

·       Karakteristik Pemuda Dambaan Umat :
1.     Aqidah yang bersih
ü  Pemuda yang memiliki aqidah yang bersih adalah pemuda yang selalu mengarahkan segenap dayanya pada satu fokus, Allah SWT. Tegasnya, dengan aqidah dan iman yang mantap kehidupan yang kita jalani menjadi terarah. Hadist : “Akmalulmu’miniinaiimaananihsanuhumkhuluqan”artinyaMu’min yang sempurnaimannya, bagusakhlaknya.
2.     Akhlak yang karimah
ü  Kesempurnaan akhlak seorang pemuda berarti pelaksanaan ajaran-ajaran Islam secara menyeluruh. Setiap pemuda menekankan prinsip “mengambil yang utama dan mencampakkan yang buruk” dalam setiap aktivitas yang dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilahiyah
3.     Memiliki daya intelektual
ü  Pemuda Islam diharapkan memiliki ilmu dan wawasan yang luas, baik yang menyangkut ilmu tentang masalah-masalah keagamaan maupun ilmu pengetahuan lainnya yang terkait dengan kehidupan di dunia ini.
4.     Tubuh yang kuat
ü  Ketangkasan, kesegaran, dan ketahanan tubuh menjadi mutlak dimiliki. Hanya dengan itu mereka mampu menyelesaikan amanat.

·       Peran Pemuda Islam
ü  Para pemuda di zamanRasulullah SAW, menjalankan peran yang amat penting dalam penyebaran risalah Islam yang kemudian disebarluaskan kepada orang lain, diaplikasikan secara kongkret dan menjaga segenap amanat Rasulullah, karena mereka benar-benar memahami seluk beluk ajaran Islam (Syamil).
ü  Para pemuda Islam di abad modern ini adalah penerus mereka, yang harus selalu memperbaiki diri dan mengenal eksistensinya dalam rangka mengemban amanat Allah dan Rasul-Nya.
-        Sebagai peran pengganti.
-        Sebagai peran penerus
-        Sebagai peran pengisi.

·       Problematika Pemuda Islam dan Penyebabnya :
ü  Arus besar musuh Islam
ü  Penyelewengan dan penyimpangan pemikiran, opini berikut analisisnya, serta berbagai pengetahuan yang jauh dari nilai-nilai Islami.
ü  Meluasnya kebodohan

·       Solusi
a.      Memperkokoh keimanan atau aqidah kepada Allah swt.
ü  Tadabbur Al Qur’an. (Al Anfal : 2)
ü  Tafakkur. (Al imran : 190 – 191 )
ü  Meneladani sirah
ü  Mengusahakan adanya sahabat dan lingkungan yang baik.
“Seseorang itu mengikuti agama kawannya, karena itu perhatikanlah kepada siapa orang itu berkawan”.(HR. Abu Daud)
ü  Menghindari segala bentuk kemunkaran dan kemaksiatan.
ü  Melaksanakan peribadatan
ü  Dzikrul maut.
b.     Menanamkan perasaan dekat kepada Allah swt. (muroqobatullah) (57 :4, 58 : 7)
c.      Mewujudkan lingkungan yang islami. (tontonan, lingkungan pergaulan)
d.     Menumbuhkan tanggung jawab mengemban amanah da’wah.




Rabu, 01 Februari 2017

Mencari Sosok Mahasiswa Ideal


Halo kawan kawan tulisan ini ditujukan untuk mahasiswa tingkat awal dan siswa siswa yang menamai diri mereka calon mahasiswa. Jadi kalau pembaca yang terhormat bukan keduanya sebaiknya tidak dilanjutkan membaca, takut tidak worth it J. Di sini saya akan menceritakan pencarian jati diri seorang mahasiswa ideal. Tujuannya supaya tidak lagi banyak mahasiswa baru yang merasa gagal seperti yang penulis rasakan.
               Sebagai mahasiswa di awal awal masuk pasti akan disambut oleh perhelatan kaderisasi akbar di kampus masing masing. Di sini pasti kawan kawan akan dicekoki dengan berbagai dogma salah satunya mahasiswa adalah agent of change. Tak dapat dipungkiri memang karena sejarah mengatakan begitu terbukti dari lahirnya reformasi karena hasil udunan tenaga mahasiswa. Kemudian dalam keberjalanannya setelah menjadi mahasiswa setiap jurusan pun mengharapkan outcome dari jurusannya dapat menjadi pembeda merubah lingkungannya menjadi lebih baik. Akan tetapi, apakah benar semua mahasiswa bisa menjadi agent of change? Jawaban yang bisa penulis sampaikan hingga saat ini adalah tergantung, tergantung dari apakah mahasiswa itu bisa merubah dirinya selama menjadi mahasiswa menuju agent of change.
               Dunia kampus adalah dunia penuh dengan pilihan. Kamu bisa jadi apapun yang kamu mau. Terlebih bagi mahasiswa perantau yang sudah tidak lagi satu atap (sementara) dengan orang tuanya, pasti akan lebih bebas dalam menentukan pilihannya. Untuk itu di sini penulis ingin mencoba menawarkan sosok sosok mahasiswa ideal yang penulis lihat selama di kampus. Kawan kawan bisa memilih, mengombinasikan, menghilangkan, menyisipkan silahkan. Karena sejatinya ideal bagi setiap orang berbeda beda. Supaya tidak salah pilih, sebagai mahasiswa bau (red : baru) penulis menyarankan supaya kepolah sekepo keponya kawan kawan. Kepo ke kakak tingkat (kemudian disingkat kating), alumni, bahkan dosen, dan tak lupa minta restu kedua orang tua. Dengan pilihan tepat dan tindakan yang benar jalan menuju agent of change (positif tentunya) akan terbuka lebar.

1. Mahasiswa Akademisi yang Prestatif, kalau kamu ingin menjadi peneliti, dosen, atau semacamnya tentulah kamu harus punya prestasi dan nilai akademik yang mumpuni. Di sini kawan kawan juga bisa memfokuskan diri dalam memaknai prestasi itu sendiri. Bisa dengan semata mata IPK yang tinggi, ikut berbagai macam lomba, ikut penelitian dan seminar seminar ilmiah, atau bahkan exchange keliling luar negeri. Saran untuk dikepoi diantaranya mahasiswa berprestasi (jurusan, fakultas, dan kampus), mahasiswa langganan juara lomba (PKM, onmipa, osn-pti, robotika, atau non akademik lainnya), mahasiswa tempat tujuan exchange teman teman, alumni, dan dosen. Untuk menjadi akademisi yang prestatif teman teman juga perlu memerhatikan mau ambil berapa sks setiap semesternya, berapa kali mengambil semester pendek (kalau di itb agak susah sih), supaya tetap lulus tepat waktu juga apabila ada tawaran exchange selama satu semester atau bahkan satu tahun. Jangan harap di kampus untuk berprestasi bisa semudah saat SMP/SMA. Kalau mungkin ketika SMA, sekolahlah yang mendorong kita untuk mengikuti suatu lomba, di kuliah dosen tidak akan care dengan prestasi kawan kawan. Ya mungkin akan care kalau kawan kawan udah juara :p. Jadi jangan jumawa ketika IPK sudah tinggi lalu menunggu panggilan dosen untuk diikutkan suatu lomba. So, salah satu quotes menarik untuk bagian ini adalah prestasi itu diraih bukan didapat J.

2. Mahasiswa Aktivis, kalau kamu lebih tertarik untuk membangun relasi dan belajar memimpin sebuah kelompok tidak ada salahnya untuk terjun sebagai mahasiswa aktivis. Aktivitas dikampus sehingga kamu dicap sebagai aktivis sangatlah banyak. Mulai dari Kepanitiaan di Kampus (kalau di ITB ada Wisuda, AMI, OSKM/Integrasi, Gebrak Ganesha dll), Unit Kegiatan Mahasiswa (which is di ITB ada sampai 80an Unit), Himpunan Mahasiswa Jurusan, BEM Fakultas, MWA Wakil Mahasiswa, dan BEM tingkat Kampus. Selain itu banyak juga mahasiswa yang menggeluti bidang pengabdian masyarakat biasanya dalam bentuk Social Preneur, Gerakan Gerakan, Pengajar Relawan, atau yang benar benar membangun desa seperti KKN. Yang terkadang memberatkan bagi mahasiswa aktivis ini adalah naluri coba coba. Semua aktivitas diikutkan sampai membuat lupa kelas, lupa istirahat, lupa makan, sama mungkin lupa si dia *lah. Saran saya sebelum masuk ke setiap ranah tanyakan dulu ke kating kating yang mungkin memang sudah terjun di ranah tersebut. Coba tarik kelebihan dan kekurangannya kalau beraktivitas di sana lalu pertimbangkan juga dengan tujuan bermahasiswa masing masing. Sungguh kontraproduktif apabila kawan kawan malah mencoba semua dengan alasan penasaran. Lebih baik tanyakan saja rasa penasaran tersebut ke mereka mereka yang sudah ada di sana. Penulis menyarankan cukup memfokuskan 1 atau 2 kegiatan di luar akademik, silahkan kawan kawan pilih mau memilih semuanya namun menggilir di tiap semester atau memang fokus di satu ranah sejak semester awal. Lalu kalau sudah menemukan wadah yang tepat pertimbangkan kesibukan yang ada dengan kesibukan akademik. Di sini kawan kawan dilatih untuk bijak. Tidak di setiap waktu akademik selalu jadi nomor satu. Bisa jadi di rentang waktu tertentu di tempat teman teman beraktivitas akan terjadi bencana tsunami kalau teman teman malah mementingkan akademik (di luar waktu UTS sama UAS tentunya :p). Bijaklah akan setiap amanah dan tanggung jawab yang kawan kawan emban. Lalu yang kedua, proyeksikan kawan kawan akan menjadi apa di tempat teman teman beraktivitas. Kalau ingin menjadi Presiden BEM kampus, kepo kepo lah track record Presiden Presiden terdahulu. Supaya siap melanjutkan si dia *lah dia lagi*. Karena di setiap posisi menjanjikan pembelajaran yang berharga dan juga memusingkan kepala (kudu kepo2 juga paitnya :p).

3. Mahasiswa Pebisnis, nah ini buat kawan kawan yang punya niatan untuk mandiri sedari masih mahasiswa. Mungkin banyak dari kita ingin mandiri tapi tidak tahu darimana memulai usaha. Saran penulis untuk kasus seperti itu, cobalah untuk menjadi reseller dari dagangan orang lain. Kalau di ITB (punteun ya contohnya kampus sendiri terus, karena gk tau kondisi kampus lain), banyak mahasiswa yang berjualan donat, risol cocol, nasi kuning, atau pisang cool. Mungkin awalnya hanya untuk kegiatan danus saja (dana usaha). Namun, dari sini kita dilatih untuk memunculkan sense of business kita. Dari sini juga kita jadi ada relasi dengan pedagang aslinya tentunya. Sedikit banyak contoh mahasiswa yang berhasil di bidang bisnis seperti usaha makanan, usaha konveksi, usaha cetak buku, dan lain sebagainya. Saran sosok untuk dikepoi, mahasiswa pebisnis yang sukses duluan, alumni yang memiliki bisnis tentunya, serta orang orang yang menunjang kepada bidang bisnis yang nantinya teman teman geluti. Lalu warning dari penulis untuk yang bercita cita menjadi mahasiswa pebisnis adalah jangan lupakan kuliah. Karena bagaimanapun kawan kawan menjadi mahasiswa dulu sebelum menjadi pebisnis (biasanya). Jadi, jangan lupakan tujuan teman teman masuk kampus masing masing. Biasanya kalau profit sudah menjanjikan mahasiswa malah malas malasan untuk kuliah. Jangan salah fokus, bagaimanapun juga karena penulis bukan Bill Gates ataupun Steve Jobs : Tuntaskan Kuliahmu! J

4. Mahasiswa Aktivis yang Prestatif, nah untuk spesies ini termasuk langka kawan kawan namun sering saya temui sih kalau di ITB. Mahasiswa yang keliatannya gak tau kapan belajarnya, malah terlihat lebih sering rapat tapi Indeks Prestasi terbang mengangkasa. Mungkin ini sosok ideal yang umum di mata mahasiswa yang baru. Saran saya untuk bertekad menjadi mahasiswa seperti ini, kamu harus kuat nak. Lalu jangan tertipu bahwa kehidupan mahasiswa ini selalu paralel dalam pencapaiannya. Terkadang kasus yang sering saya liat, mahasiswa yang terlihat sebagai aktivis yang prestatif punya cara unik untuk memfokuskan diri. Mungkin bulan ini memang ia habiskan untuk beraktivitas atau menuntaskan amanah amanah kampus, setelah selesai bulan/minggu selanjutnya ia memfokuskan diri untuk lomba, lalu tak lupa mengejar IP di kelas. So do you dare enough to become common sense of mahasiswa ideal ini?

5. Mahasiswa Aktivis yang prestatif dan punya bisnis ulung, satu kata untuk mahasiswa ini. Gokil. Sejauh ini saya belum menemukan mahasiswa seperti ini. Katanya sih dulu di ITB ada, tapi kalau ada saya pastikan dia manajemen fokusnya melebihi si nomor 4. Karena saya belum nemu jadi gak bisa cerita banyak ya di sini ^^.
So, untuk membantu mengkonstruksi sosok mahasiswa ideal dari berbagai pilihan yang ada. Penulis ingin membagikan tips.

1. Pilihlah jalanmu sendiri
Dari cerita saya di atas mungkin baru sebagian dari sekian banyak pilihan mahasiswa yang ada. Salah satu yang belum tertulis mungkin mahasiswa yang sukses membina rumah tangga di usia muda :p. So, jangan terkungkung atas 5 deskripsi yang saya uraikan di atas. Silahkan kepo kepo ke berbagai narasumber yang bisa kawan kawan jangkau. Selagi tingkat awal maksimalkan lah informasi yang ada untuk kemudian memilih jalan ideal yang ingin dilalui.

2. Fokus pada Pilihan
Seperti yang sudah saya singgung di bagian atas. Bahwa sejatinya kita tidak bisa mendapat banyak hal dalam satu kali tangkapan. Harus ada yang didahulukan dan harus ada yang ditinggalkan. Ini adalah masalah prioritas. Sebagai mahasiswa penulis merasa skill inilah yang sangat terasa. Bagaimana me-manage prioritas, tanggung jawab, dan hal hal penting yang menunjang masa depan. Karena waktu yang kita miliki terbatas, fokuslah pada pilihan yang sudah kawan kawan ambil lalu bijaklah dalam memilih prioritas di setiap waktunya.

3. Jangan menyesal atas Pilihanmu
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Kawan kawan di suatu waktu mungkin akan merasakan menyesal akan hasil yang didapat. Jangan kaget ketika kawan kawan mungkin dapat E, bisa jadi itu karena pilihan kawan kawan untuk tidak belajar dan menganggap remeh setiap tugas kuliah. Lalu jangan terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Karena orang lain tidak tau kapasitas kita, dan kita tidak tau apa saja ujian yang sudah dilewati orang lain untuk mencapai kesuksesannya. Teruslah berkembang dan jadikan orang yang sukses duluan sebagai guru dalam pengalaman dan perjalanan kawan kawan menuju sosok mahasiswa ideal yang kawan kawan idam idamkan.
Sekian saja tulisan ini penulis buat, silahkan memaknai sosok mahasiswa ideal masing masing. Selamat berubah menuju agent of change. Seperti tulisan saya sebelumnya. Selamat berjuang mahasiswa, Indonesia menanti kontribusimu. Hidup Mahasiswa!
Tulisan terkait : https://www.zenius.net/blog/12371/kuliah-ipk-organisasi-panitia-mahasiswa

                                                                                                                                       Ttd



                                                                                                                   Mahasiswa yang Belum Ideal
                                                                                                                        Hilmy Adam Jieta Pradana